Senin, 11 Mei 2015

Makalah FPI : Teori-Teori Pengembangan SDM dalam Filsafat Pendidikan Islam



KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT, karena dengansegala limpahan rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawatpun penulis sampaikan kepada junjungan Nabi Muhammad Saw  beserta keluarga dan  sahabat sahabatnya. Penulis juga menyampaikan rasa terima kasih kepada dosen pembimbing  Ibu Ifada Retno,   karena atas bimbingannya penulis mampu menghadirkan sebuah makalah yang di harapkan mampu memberi hasanah pengetahuan.
Tugas ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam. Dan juga kami mengucapkan terimakasih kepada:
1.    Ifada Retno E. ARA., M.Ag. selaku dosen pembimbing mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam.
2.    Orang tua yang telah banyak memberikan semangat dan arahan kepada kami sehingga terwujudnya makalah ini.
3.    Seseorang yang selalu ada di hati kami, terima kasih atas kesetiaanmu serta nasihat dan motivasi yang telah diberikan.
4.    Semua pihak yang tidak sempat kami sebutkan satu per satu yang turut membantu kelancaran dalam penyusunan makalah ini.
Adapun tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk memberikan hasanah pengetahuan khususnya bagi para pembaca mengenai teori-teori pengembangan SDM. Mudah mudahan makalah ini dapat  bermanfaat bagi para pembaca. Tholabul ilmi amin.




Semarang, 8 April 2015  

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ................................................................................................   1
DAFTAR ISI ................................................................................................................   2
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ...............................................................................................    3
B.     Rumusan Masalah ..........................................................................................    3
C.     Tujuan Penulisan ............................................................................................    3
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pentingnya Pengembangan SDM ...................................................................    4
B.     Teori Idealisme-Rasionalisme .........................................................................    5
C.     Teori Realisme ................................................................................................    7
D.    Teori Pragmatisme-Eksprimentalisme ............................................................    8
E.     Teori Eksistensialisme ....................................................................................    9
F.      Teori Islam.......................................................................................................   10
BAB III PENUTUP
3.1  Kesimpulan ....................................................................................................   12
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................   13






BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Dalam peradaban manusia modern dikenal adanya tiga macam sumber daya, yaitu sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya teknologi. Dari kesemua sumber tersebut sangat besar pengarunya dalam kehidupan, apalagi yang berkaitan dengan sumber daya manusia. Karena begitu pentingnya sumber daya manusia,  maka sudah seharusnya kita untuk mengetahui bagaimana pengembangannya, terutama pembahasan disini adalah pengembangan sumber daya manusia dalam teori-teori aliran filsafat.
Filsafat pendidikan islam juga akan membahas tentang hal ini, akan tetapi khusus yang berkenaan dengan aliran-aliran filsafat. Dan disini saya hanya diberi kepercayaan untuk membahas masalah yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia  dalam aliran  rasionalisme, realisme, pragmatisme, eksistensialisme, dan yang terakhir menurut islam. Untuk lebih jelasnya, mari kita ikuti pembehasan berikuut ini.
B.  Rumusan Masalah
Dilihat dari latar belakang di atas kita dapat merumuskan masalah, antara lain sebagai berikut:
1.    Pentingnya pengembangan SDM?
2.    Bagaimanakah teori pengembangan SDM menurut teori rasionalisme?
3.    Bagaimanakah teori pengembangan SDM menurut teori realisme?
4.    Bagaimanakah teori pengembangan SDM menurut teori pragmatisme?
5.    Bagaimanakah teori pengembangan SDM menurut teori eksistensialisme?
6.    Bagaimanakah teori pengembangan SDM menurut teori menurut islam?

C.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penyusunan makalah ini, antara lain sebagai berikut:
1.    Untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam
2.    Agar mengetahui tentang teori-teori pengembangan SDM
3.    Memberi hasanah kepada para pembaca atau khususnya bagi peserta didik.


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Teori-Teori Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Filsafat
Sebelum sampai kepada pembahasan mengenai teori pengembangan sumber daya manusia dalam aliran-aliran filsafat, terlebih dahulu sekilas akan dibahas tentang pengembangan sumber daya manusia.
Teori pengembangan manusia seperti; kekuatan fisik manusia, pengetahuannya,  keahliannya atau ketarampilannya, semangat dan kreativitasnya, kepribadiannya serta kepemimpinannya. Telah menjadi suatu kesepakatan para ahli, bahwa sumber daya  manusia merupakan aset penting, bahkan dianggap paling penting diantara sumber-sumber daya yang lainnya dalam memajukan suatu masyarakat atau bangsa. Namun dalam kenyataannya, sumber daya manusia baru menjadi aset penting dan berharga apabila sumber daya manusia tersebut mempunyai kualitas yang tinggi.[1]
Untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, ada suatu jalan pemecahan yang harus ditempuh, yakni melalui pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan pelatihanlah yang akan meningkatkan kemauan, kemampuan, dan kesempatan bagi seseorang untuk berperan dalam kehidupannya, secara individu maupun masyarakat.
Lemahnya sumber daya manusia, dapat dikarenakan beberapa macam sebab, antara lain  seperti budaya masyarakat, struktur masyarakat, atau rekayasa yang sengaja diterapkan pada masyarakat tertentu. Gejala yang tampil dari lemanya sumber daya manusia adalah:
ü Lemahnya kemauan, merasa tidak mampu, tidak percaya diri, dan merasa rendah diri.
ü Lemanya kemampuan, terbatasnya pengetauan,terbatasnya keterampilan,dan terbatasnyapengalaman.
ü Terbatasnya kesempatan, kurang memenuhi kebutuhan yang diperlukan, sulit ditingkatkan, tidak mampu menggunakan kesempatan, dan peluang yang diberikan.
Sebenarnya ada beberapa langkah yang harus dilakukan demi tercapainya pengembangan sumber daya manusia. Pertama: informasi-informasi yang luas, aktual, dan hangat agar dapat membuka ketertutupan pandangan dan wawasan, dan pada tahap selanjutnya akan menimbulkan gairah untuk melakukan sesuatu yang diperlukan (tumbuh kemauan dan keinginan berprestasi). Kedua: motivasi dan arahan yang dapat menumbuhkan semangat untuk melaksanakan sesuatu atau beberapa tugas pekerjaan dengan adanya kepercayaan diri yang kuat, sehingga ada gairah untuk mewujudkan suatu tujuan (peningkatan produktivitas dan kemampuan diri). Ketiga: metodologi dan system kerja yang dapat memberikan cara penyelesaian masalah dengan efektif dan efesien, secara terus-menerus (manusia potensial, actual, dan fungsional).

B.  Teori Rasionalisme
Rasonalisme adalah suatu aliran filsafat yang muncul pada zaman modern, yang menekankan bahwa dunia luar adalah sesuatu yang riil. Rasionalisme memiliki suatu keyakinan bahwa sumber pengetahuan terletak pada rasio manusia melalui persentuhannya  dengan dunia nyata di dalam berbagai pengalaman empirisnya.[2]
Rasio adalah subjek yang berfikir sekaligus objek pemikiran. Daripadanya keluar akal aktif, karena ia merupakan sesuatu yang pertama diciptakan. Akal manusia merupakan salah satu potensi jiwa, biasanya disebut dengan rational soul. Ia ada dua macam, yaitu: pertama  praktis,  ini bertugas mengendalikan badan dan mengatur tingkah laku. Kedua adalah teoritis, yakni khusus berkenaan dengan persepsi dan epistemologi, karena akal praktis inilah yang menerima persepsi-persepsi indrawi dan meringkas pengetahuan-pengetahuan universal dari padanya dengan bantuan akal aktif.
Dengan akal kita bisa menganalisa dan membuktikan, dengan akal pula kita mampu menyingkap realita-realita ilmiah, karena akal merupakan salah satu pengetahuan. Tidak semua pengetahuan diwahyukan, tetapi ada pula yang harus didedukasi oleh akal melalui eksprimen.
Rasionalisme menekankan bahwa kesempurnaan manusia tergantung pada kualitas rasionya, sedangkan kualitas rasio manusia tegantung kepada penyediaan kondisi yang memunkinkan berkembangnya rasio kearah yang memadai untuk mencerna berbagai permasalahan kehidupan menuju penyempurnaan dan kemajuan.[3] Pribadi-pribadi yang rasio adalah pribadi-pribadi yang mempunyai suatu keyakinan atas dasar kesimpulan yang berlandaskan pada analisis mendalam terhadap bebagai bukti yang dapat di percaya, sehingga terdapat hubungan yang rasional antara ide dengan kenyataan empiric. Untuk keperluan ini, ditemukan tata logic yang baik karena  sangat berguna bagi pengembangan rasionalitas tersebut.
Mengingat pengembangan rasionalitas manusia sangat tergantung kepada pendayagunaan maksimal unsur ruhaniah individu yang sangat tergantung kepada proses psikologik yang lebih mendalam sebagai proses mental, maka yang lebih ditekankan oleh aliran rasionalisme ini dalam pengembangan sumber daya manusia tidak lain adalah dengan menggunakan pendekatan mental discipline, yaitu suatu pendekatan yang berupaya melatih pola dan  sistematika berfikir seseorang atau sekelompok orang melalui tata logik yang tersistematisasi sedemikian rupa, sehingga ia mampu menghubungkan berbagai data atau fakta yang ada untuk menuju pengambilan atau kesimpulan yang baik pula. Proses semacam ini memerlukan penguta-penguatan melalui pendekatan individualistis yang mengacu pada intelektualisti. Dan untuk keperluan ini memerlukan adanya upaya penyadaran akan watak hakiki manusia yang rasional.[4]
Upaya penyadaran erat kaitannya dengan fungsionalisasi rasionalitas manusia yang menjadi pertanda dirinya, terarah sedemikian rupa sehingga benar-benar dapat memecahkan berbagai problem kemanusiaan itu sendiri. Oleh karena itu, pendewasaan, intelektual melalui pembinaan berfikir reflektif-kritis-kretif yang akan menumbuhkan konsep diri untuk membentuk sikap dirinya dalam memandang persoalan-persoalan diberbagai realitas kehidupannya. Dengan adanya kemampuan berfikir reflektif ini akan memudahkan seseorang mengambil keputusan yang akan melahirkan kreatifitas dan inovasi dalam berbagai kajian yang ia sukai, di samping itu juga dapat mengembangkan imajinasinya. Sehingga dengan demikian menjadikan yang bersangkutan dapat mengelola ilmunya sebagai dasar bagi peningkatan dan pengembangannya pada hal-hal yang lebih tinggi. Dengan berfikir reflektif, dapat menjadikan subjeknya mampu memandang jauh ke depan menuju tatanan keilmuan yang lebih baik dan sempurna.
Upaya penyadaran akan fungsi manusi sebagai makhluk rasioanal ini merupakan tugas yang esensial bagi dunia pendidikan, karena memang eksistensinya bersentuhan langsung dengan kemanusiaan itu sendiri. Dengan demikian, penumbuhkembangkan berfikir reflektif, kritis, kreatif ini menurut aliran rasionalisme merupakan kunci suksesnya suatu pendidikan.  Jika pengembangan dan penyempurnaan rasionalitas akan dicapai melalui upaya pendidikan, maka diperlukan semacam ekosistem rasional yang akan mendukung terciptanya kemampuan berfikir rasional tersebut. Mengingat berfikir berkenaan dengan kebebasan mengeluarkan pendapat dan fikiran, maka aspek kebebasan aspek penting dalam mewujudkan manusia-manusia yang diinginkan.
Kebebasan adalah hak asasi manusia dan dengan kebebasan manusia memperoleh jalan untuk mengembangkan potensi-potensinya. Kebabasan merupakan sesuatu yang diperlukan bagi terbentuknya manusia-manusia yang mandiri, sehingga ia pun mesti bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya. Oleh karena itu, aliran ini sangat menghargai asa demokrasi dalam pembentukan watak manusia.
Berdasarkan pemikiran ini, aliran rasioanalisme berpendapat bahwa tujuan pendidikan pendidikan adalah semacam pertumbuhan dan perkembangan subjek didik secara penuh berdasarkan bakat ilmu pengetahuan dan keterampilan yang luas untuk kepentingan kehidupannya, sehingga ia pun dengan  mudah dapat menyesuiakan diri  dengan masyarakat dan lingkungan.
Sebenarnya memang benar jika segala  sesuatu khususnya pengembangan SDM itu tidak terlepas dari awalan rasio. Artinya, semua hal tidak akan bisa berjalan tanpa adanya proses akal yang aktif pada setiap jiwa diri seseorang. Akan tetapi, meskipun  demikian penganut ini tidak boleh mempunyai sifat egoisme karena tanpa yang lain ia tidak akan bisa berdiri seutuhnya sebagaimana  yang diharapkan.

C.  Teori Realisme
Pada hakikatnya kelahiran realisme sebagai suatu aliran dalam filsafat merupakan sintesis antara filsafat idealisme Immanuel Kant di satu sisi, dan empirisme John Lock  disisi lainnya. Realisme ini kadanng kala disebut juga neo rasionalisme. John Lock memandang bahwa tidak ada  kebenaran yang bersifat metafisik dan universal.[5] Ia berkeyakinan bahwa  sesuatu dikatakan benar jika didasarkan pada pengalaman-pengalaman indrawi. John Lock menyangkal kebenaran akal, sedangkan menurut idealisme Immanue Kant, realisme termasuk salah satu aliran klasik yang selalu disandarkan pada nama besar Aristoteles yang memandang dunia  dalam terma material. Segala sesuatu yang ada di hadapan kita adalah suatu yang riil dan terpisah dari pikiran manusia, namun ia dapat memunculkan pikiran dengan melalui upaya selektif terhadap berbagai pengalaman dan melalui pendayaan fungsi akal. Jadi, realitas yang ada adalah dalam wujud natural, sehingga dapat dikatakan bahwa segala sesuatu dapat digerakkan dari alam.
Dalam memandang kehidupan, realisme berpendapat bahwa kehidupan fisik, mental, moral, dan spiritual biasanya ditandai atau terlihat dalam alam natural. Dengan demikian terlihat  realisme  sesungguhnya lebih cendrung untuk mengatakan sesuatu itu sebagai sesuatu itu sendiri dari pada sesuatu itu sebagai apa mestinya. Oleh karena itu, dalam mengembangkan SDM aliran ini berangkat dari cara manusia memperoleh pengetahuan.
Menurut aliran realisme, sesuatu dikatakan benar jika memang riil dan secara substantive ada. Suatu teori dikatakan benar apabila adanya kesesuaian dengan harapan dapat diamati dan semuanya perfeck. Aliran ini menyakini bahwa adanya hubungan interaksi antara pikiran manusia dan alam semesta tidak akan mempengaruhi sifat dasar dunia. Objek-objek yang diketahui adalah nyata dalam dirinya sendiri, bukan hasil persepsi dan bukan pula hasil olahan akal manusia. Dunia tetap ada sebelum  pikiran menyadari dan ia tetap akan ada setelah pikiran tidak menyadarinya. Jadi menurut realisme ada atau tidak adanya akal pikiran manusia, alam tetap  riil dan nyata dalam hukum-hukumnya.
Bagi kelompok realisme, ide atau proposisi adalah benar ketika eksistensinya berhubungan dengan segi-segi dunia. Sebuah hipotesis tentang dunia tidak dapat dikatakan benar semata-mata karena ia koheren dengan pengetahuan. Jika pengetahuan baru itu berubungan dengan yang lama, maka hal itu hanyalah lantaran yang lama itu memang benar, yaitu desebabkan pengetahuan lama koresponden dengan apa yang terjadi dengan kasus itu.
Dengan demikian, pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang koresponden dengan dunia sebagaimana apa adanya. Dalam perjalanan waktu, ras manusia telah dikonfirmasi secara berulang-ulang, menanamkan pengetahuan tertentu kepada anak yang sedang tumbuh merupakan tugas yang paling penting.

D.  Teori Pragmatisme
Pragmatisme berasal dari dua kata yaitu pragma dan isme. Pragam berasal dari bahasa Yunani yang berarti tindakan atau action. Sedangkan pengertian isme sama dengan pengertian isme-isme yang lainnya yang merujuk pada cara berpikir atau suatu aliran berpikir. Dengan demikian filsafat pragmatisme beranggapan bahwa fikiran itu mengikuti tindakan.
Pragmatisme menganggap bahwa suatu teori dapat dikatakan benar apabila teori itu bekerja. Ini berararti pragmatisme dapat digolongkan ke dalam pembahasan tentang makna kebenaran atau theory of thurth. Hal ini dapat kita lihat dalam buku William James yang berjudul The Meaning of Thurth. Menurut James kebenaran adalah sesuatu yang terjadi pada ide. Menurutnya kebenaran adalah sesuatu yang tidak statis dan tidak mutlak. Dengan demikian kebenaran adalah sesuatu yang bersifat relatif. Hal ini dapat dijelaskan melalui sebuah contoh. Misalnya ketika kita menemukan sebuah teori maka kebenaran teori masih bersifat relatif sebelum kita membuktikan sendiri kebenaran dari teori itu.
Tokoh aliran Pragmatis adalah Ibnu Khaldun. Sedangkan tokoh Pragmatisme Barat yaitu John Dewey. Bila filsafat pendidikan Islam berkiblat pada pandangan pragmatisme John Dewey, tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan adalah segala sesuatu yang sifatnya nyata, bukan hal yang di luar jangkauan pancaindera.[6]
Dari pemikiran Ibnu Khaldun di atas, maka ide pokok pemikiran aliran Pragmatis antara lain:
Ø Manusia pada dasarnya tidak tahu, namun ia menjadi tahu karena proses belajar,
Ø Akal merupakan sumber otonom ilmu pengetahuan, dan
Ø Keseimbangan antara pengetahuan duniawi dan ukhrawi.

E.  Teori Eksistensialisme
Dari sudut estimologi eksistensialisme berasal dari kata eks yang berarti di luar dan sistensi yang berati berdri sendiri atau menempatkan, jadi secara luas eksistensi dapat diartikan sebagai, berdiri sendiri sebagai dirinya sekaligus keluar dari dirinya. Eksistensialisme merupakan suatu aliran dalam filsafat yang menekankan pada manusia, dimana manusia dipandang sebagai suatu dunia dengan kesadaran. Jadi pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkret.
Ada beberapa ciri eksistensialisme, yaitu selalu melihat manusia berada, ekssistensi diartikan secara dinamis sehingga ada unsur berbuat dan menjadi, manusia dipandang sebagai suatu realitas yang terbuka dan belum selesai dan berdasarkan pengalaman yang konkret. Jadi dapat disimpulkan bahwa eksistensialisme memandang manusia sebagai suatu yang tinggi, dan keberadannya itu selalu ditentukan oleh dirinya, karena hanya manusialah yang dapat bereksistensi, yang sadar akan dirinya dan tahu bagaimana cara menempatkan dirinya. Ilmu-ilmu yang berkaitan eksistensialisme yaitu sosiologi dan antropologi.
Eksistensialisme bisa dialamatkan sebagai saanlah satu reaksi dari sebagian terbesar reaksi terhadap peradaban manusia yang hampir punah akibat perang dunia kedua.[7] Dengan demikian  Eksistensialisme pada hakikatnya adalah merupakan aliran filsafat yang bertujuan mengembalikan keberadaan umat manusia sesuai dengan keadaan hidup asasi yang dimiliki dan dihadapinya.
Secara singkat Kierkegaard memberikan pengertian Eksistensialisme adalah suatu penolakan terhadap suatu pemikiran abstrak, tidak logis atau tidak ilmiah. Eksistensialisme menolak segala bentuk kemutlakan rasional.[8] Dengan demikian aliran ini hendak memadukan hidup yang dimiliki dengan pengalaman, dan siuasi sejarah yang dialami, dan tidak mau terikat oleh hal-hal yang sifatnya abstrak serta spekulatif. Baginya, segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, keyakinan yang tumbuh dari dirinya dan kemampuan serta keluasan jalan untuk mencapai keyakinan hidupnya.
Atas dasar pandangan itu, sikap dikalangan kaum Eksistensialisme atau penganut aliran ini seringkali nampak aneh atau lepas dari norma-norma umum. Kebebasan untuk freedom to, adalah lebih banyak menjadi ukuran dalam sikap dan perbuatannya.

F.   Teori Menurut Islam
Strategi pengembangan sumber daya manusia yang dilakukan oleh  Nabi Muhammad SAW meliputi: (1)merencanakan dan menarik sumber daya manusia yang berkualitas, (2)mengembangkan sumber daya manusia agar berkualitas, (3)menilai kinerja sumber daya manusia, (4)memberikan motivasi, dan (5)memelihara sumber daya yang berkualitas.[9] Sejalan dengan langkah yang diambil Nabi Muhammad tersebut, Mujamil Qomar mengungkapkan bahwa manajemen sumber daya manusia mencakup tujuh komponen, yaitu: (1)perencanaan pegawai, (2)pengadaan  pegawai, (3)pembinaan dan pengembangan pegawai, (4)promosi dan mutasi, (5)pemberhentian pegawai, (6)kompensasi, dan (7)penilaian pegawai.[10]
Dalam upaya membangun sumber daya manusia yang Qur’ani dan unggul, diperlukan adanya aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Said Agil Husin al-Munawar  bahwa secara normatif, proses aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam pendidikan meliputi tiga dimensi atau aspek kehidupan yang harus dibina dan dikembangkan oleh pendidikan yaitu:[11]
a.    Dimensi Spiritual, yakni iman, takwa, dan akhlak yang mulia. Dimensi ini ditekankan kepada akhlak. Terbinanya akhlak yang baik dapat menjadikan terbentuknya individu dan masyarakat dalam kumpulan suatu masyarakat yang beradab.
b.    Dimensi Budaya, yakni kepribadian yang mantap dan mandiri, tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Dimensi ini menitikberatkan pembentukan kepribadian muslim sebagai individu yang diarahkan kepada peningkatan dan pengembangan faktor dasar dan faktor ajar (lingkungan) dengan berpedoman pada nilai-nilai ke-Islaman.
c.    Dimensi Kecerdasan, merupakan dimensi yang dapat membawa kemajuan, yaitu cerdas, kreatif, terampil, disiplin, dll. Dimensi kecerdasan dalam pandangan psikologi merupakan suatu proses yang mencakup tiga proses yaitu analisis, kreativitas, dan praktis. Tegasnya dimensi kecerdasan ini berimplikasi bagi pemahaman nilai-nilai Al-Qur’an dalam pendidikan. Dari uraian di atas, hemat penulis, kunci dari segala upaya membangun SDM yang unggul serta Qur’ani yaitu pendidikan.
Pendidikan merupakan wadah untuk mendidik, membina, membimbing, melatih, mengembangkan, mengolah, mengelola serta mendayagunakan SDM. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan akhlak, pendidikan intelektual, dan pendidikan budaya, yang dilandasi oleh sumber ajaran Islam. Secara rinci, upaya yang dapat dilakukan yaitu:
a.    Menanamkan akhlakul mahmudah melalui teladan dan pembiasaan;
b.    Mengembangkan pola pikir dengan mempertimbangkan kebaikan atau keburukan tentang suatu hal tertentu;
c.    Membangun dan mengembangkan mental SDM yang mandiri, dan  berjiwa kompetitif;
d.   Saling tolong menolong dalam kebaikan;
e.    Menghayati nilai-nilai moral yang berlaku;
f.     Menerapkan proses humanisasi:
g.    Menanamkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, informasi, teknologi;
h.    Mengaplikasikan nilai-nilai Islam ke dalam proses pendidikan;
i.      Mengaplikasikan metode tilawah, taklim, tazkiyyah, dan hikmah seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.










BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Dapat diambil suatu kesimpulan bahwa masing-masing aliran tersebut mempunyai pandangan yang berbeda-beda tentang bentuk-bentuk pengembangan sumber daya manusia. Yang mana rasionalisme mengatakan bahwa segala sesuatu pengetahuan itu berasal dari rasio manusia, yaitu atas dasar kinerja otak setiap individu. Begitu pula kaitannya dengan pengembangan sumber daya manusia, yang semuanya akan terbentuk karena adanya rasio yang senantiasa berfikir, dan membentuk sesuai dengan pola pikirnya.
Begitu sebaliknya dengan teori realisme, ia mengatakan bahwa semua itu terjadi sesuai dengan keadaanya nyata alam ini, sehingga tanpa memerlukan rasio untuk memikirkannya. Segala sesuatu yang ada di hadapan kita adalah suatu yang riil dan terpisah dari pikiran manusia, namun ia dapat memunculkan pikiran dengan melalui upaya selektif terhadap berbagai pengalaman dan melalui pendayaan fungsi akal.
Akan tetapi pada dasarnya dapat dikatakan bahwa diantara aliran-aliran yang ada terutama dua aliran di atas, itu semua tidak akan terlepas antara satu sama lainnya. Karena dalam menggunakan aliran realisme pasti tidak akan terlepas dari pada yang namanya rasio (rasionalisme), dan begitu pula dengan sebaliknya.
Ide pokok pemikiran teori pragmatisme antara lain:
Ø Manusia pada dasarnya tidak tahu, namun ia menjadi tahu karena proses belajar,
Ø Akal merupakan sumber otonom ilmu pengetahuan, dan
Ø Keseimbangan antara pengetahuan duniawi dan ukhrawi.
Sedangkan teori eksistensialisme memandang manusia sebagai suatu yang tinggi, dan keberadannya itu selalu ditentukan oleh dirinya, karena hanya manusialah yang dapat bereksistensi, yang sadar akan dirinya dan tahu bagaimana cara menempatkan dirinya. Atas dasar pandangan itu, sikap dikalangan kaum Eksistensialisme atau penganut aliran ini seringkali nampak aneh atau lepas dari norma-norma umum.
Strategi pengembangan sumber daya manusia yang dilakukan oleh  Nabi Muhammad SAW meliputi: (1)merencanakan dan menarik sumber daya manusia yang berkualitas, (2)mengembangkan sumber daya manusia agar berkualitas, (3)menilai kinerja sumber daya manusia, (4)memberikan motivasi, dan (5)memelihara sumber daya yang berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA

al-Munwar, Said Agil. 2005. Aktualisasi Nilai-Nilai Qur’ani dalm Sistem Pendidikan Islam. Ciputat: Ciputat Press.
Anshari, Endang  Saifuddin. 2004. Wawasan Islam. Jakarta: Gema Insani.
Baginda, Mardiyah. (t. thn). Pengembangan Sumber Daya Manusia Melalui Diklat Menurut Pandangan Al-Qur’an. Jurnal Ilmiah.
Basri, Hasan. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Hasan, Muhammad Thalhal. 2004. Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia. Jakarta: Lantabaro Press.
Ibrahim, Madkour. 1990. Aliran dan Teori Filsafat Islam, Yogyakarta: Bumi Aksara.
Molina, Fernando R.. 1969. The Sourcess of Eksistensialism As Philosopy. New Jearsy: Prentice-Hall.
Muhmidayeli, M. Ag. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Pekanbaru: LSFK2P.
Roubiczek, Paul. Existentialism For and Against. Cambridge: University Press.
Suyanto, M.. 2008. Muhammad Business Strategy & Ethics: Etika dan Strategi Bisnis Nabi  Muhammad SAW. Yogyakarta: Andi Offset.


[1] Muhammad Thalhal Hasan, Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia, Jakarta: Lantabaro Press, 2004. hlm. 64-69.
[2]  Muhmidayeli, M. Ag.,  Filsafat Pendidikan Islam, Pekanbaru : LSFK2P, 2005. hlm. 139.
[3]  Muhammad Thalhal Hasan, Op. Cit., hlm. 65.
[4]  Muhmidayeli, M. Ag, Op. Cit., hlm. 130.
[5] Metafisik atau metafisika adalah  yaitu filsafat tentang hakikat yang ada dibalik fisika,  tentang hakikat yang ada yang bersifat transenden, di luar atau di atas kemampuan pengalaman manusia. Lihat, Endang  Saifuddin Anshari, Wawasan Islam, Jakarta: Gema Insani, 2004. hlm. 109.
[6]  Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Pustaka Setia, 2009, hlm. 99.
[7]  Fernando R. Molina, The Sources of Eksistentialism As Philosophys, New Jersey, Prentice-Hall-1969, hlm. 1.
[8]   Paul Roubiczek, Existentialism For and Against, Cambridge, University Press, 1966, hlm. 10.
[9]  Mardiah Baginda, Pengembangan Sumber Daya Manusia Melalui Diklat Menurut Pandangan Al-Qur’an, Jurnal Ilmiah, (t.th), hlm. 4.
[10] M. Suyanto, Muhammad Business Strategy & Ethics: Etika dan Strategi Bisnis Nabi  Muhammad SAW, Yogyakarta, Andi Offset, 2008, hlm. 223.
[11] Said Agil al-Munwar, Aktualisasi Nilai-Nilai Qur’ani dalm Sistem Pendidikan Islam, Ciputat, Ciputat Press, 2005, hlm. 8.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar