KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis haturkan kehadirat
Allah SWT, karena dengan segala limpahan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan
makalah ini. Tak lupa sholawat pun penulis sampaikan kepada junjungan Nabi
Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya. Penulis juga menyampaikan
rasa terimakasih kepada Dosen pembimbing Bapak Ghufron Hamzah, M.Si. karena
atas bimbingannya penulis mampu menghadirkan sebuah makalah yang diharapkan mampu
memberi hasanah pengetahuan.
Adapun
tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk memberikan hasanah pengetahuan
khususnya bagi para pembaca mengenai ilmu ushul fiqh yang berkaitan dengan
konsep dan penyesuaian diri. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi
para pembaca “tholabul ilmi”. Amin.
Semarang,
3 Oktober 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL..................................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................................... 1
DAFTAR ISI.................................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN
KATA PENGANTAR................................................................................................... 1
DAFTAR ISI.................................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah..................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah............................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Larangan Terhadap Tengkulak .......................................................................... 4
B. Larangan Menimbun Barang Pokok atau
Monopoli .......................................... 6
a. Monopoli Yang Haram .................................................................................. 6
a. Monopoli Yang Haram .................................................................................. 6
b. Monopoli Yang Dibolehkan .......................................................................... 7
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................................ 8
B. Saran .................................................................................................................. 8
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 9
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam agama Islam kita
memang di halalkan dan di suruh untuk mencari rezki melalui berbagai macam
usaha seperti bertani, berburu atau melakukan perdagangan atau jual beli. Namun
tentu saja kita sebagai orang yang beriman diwajibkan menjalankan usaha
perdagangan secara Islam, dituntut menggunakan tata cara khusus menurut Alquran
dan Sunnah, ada aturan mainnya yang mengatur bagaimana seharusnya seorang
Muslim berusaha di bidang perdagangan agar mendapatkan berkah dan ridha Allah
SWT di dunia dan akhirat.
Aturan main perdagangan
Islam, menjelaskan berbagai macam syarat dan rukun yang harus dipenuhi oleh
para pedagang Muslim dalam melaksanakan jual beli. Dan diharapkan dengan
menggunakan dan mematuhi apa yang telah di syariatkan tersebut, suatu usaha
perdagangan dan seorang Muslim akan maju dan berkembang pesat lantaran selalu
mendapat berkah Allah SWT di dunia dan di akhirat.
Selain harus mengetahui
bagaimana jual beli yang di perbolehkan dan sah menurut hukm islam, kita juga
dituntut untuk tahu apa saja jual beli yang dilarang oleh Islam, agar kita
tidak terjerumus kepada hal yang dilarang oleh Allah SWT, untuk itulah dalam
makalah sederhana ini saya akan membahas satu dari sekian banyak jual beli yang
tidak diperbolehkan, yaitu monopoli atau Ihtikar. Tentang apa dan bagaimana ihtikar
itu menurut pandangan hukum islam.
B.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang larangan menimbun barang pokok dan monopoli di
atas, dapat kita ambil masalah-masalah mendasar terhadap jual beli yang tidak
diperbolehkan (monopoli atau ihtikar), antara lain;
a)
Larangan
terhadap tengkulak.
b)
Larangan
menimbun barang pokok atau monopoli.
c)
Monopoli
yang diharamkan.
d)
Dan
yang terakhir monopoli yang diperbolehkan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Larangan Terhadap Tengkulak
وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله
عنه قَالَ: ( نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ اَلْمُحَاقَلَةِ, وَالْمُخَاضَرَةِ,
وَالْمُلَامَسَةِ, وَالْمُنَابَذَةِ, وَالْمُزَابَنَةِ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ
Artinya: “Anas berkata: Rasulullah Shallallaahu
‘alaihi wa Sallam melarang jual-beli dengan cara muhaqalah, muhadlarah (menjual
buah-buahan yang belum masak yang belum tentu bisa dimakan), mulamasah (menjual
sesuatu dengan hanya menyentuh), munabadzah (membeli sesuatu dengan sekedar
lemparan), dan muzabanah”. HR. Bukhari.
Menjual kurma basah
dengan kurma kering dengan takaran (yang sama) dan menjual anggur segar dengan
anggur kering (kismis) dengan takaran. Dalam hadis diatas telah dijelaskan
bahwa kelima jenis jual beli tersebut dilarang oleh Rosululloh saw. Karena
system jual beli tersebut dapat merugikan salah satu pihak. Sebagaimana dalam
Shahih Bukhori, hadis nomor 2312 juga dijelaskan mengenai terlarangnya jual
beli yang merugikan salah satu pihak, karena didalamnya mengandung riba. Hadis
tersebut diriwayatkan oleh Abu Said al Khudriy ra. Bahwa suatu ketika beliau
membawa kurma kepada Nabi. Kemudian beliau bertanya mengenai asal usul kurma
tersebut , lalu beliau menceritakannya. Bahwa kurma tersebut berasal dari akad
jual beli (barter) kurma kering 2 sha’ dengan kurma yang baik 1 sha’. Lalu
Rosul bersabda” Hati-hati, hati-hati ini riba, ini riba, jangan lakukan. Apa
bila kamu ingin membeli kurma yang bagus maka jual terlebuh dahulu kurmamu yang
jelek, kemudian hasil penjualanya gunakan untuk membeli kurma yang bagus”. Dr.
Nasrun Haroen, MA mengatakan bahwa dalam syariat Islam ditetapkan hak khiyar
bagi orang-orang yang melakukan transaksi perdata agar tidak dirugikan dalam
transaksi yang mereka lakukan.
Dengan demikian ulama’
fikih sepakat menyatakan bahwa jual beli yang mengandung unsur penipuan,
seperti almulamasah dan almuzabanah adalah tidak sah atau batil. Sebagaimana
jumlah ulama membagi jual beli menjadi dua, yaitu sah dan batil. Namun Ibnu
Qoyyim al Jauziyah seorang pakar fikih hanbali berpendapat, bahwa jual
beli yang ketika berlangsung akad barangnya tidak ada, tetapi diyakini akan ada
dimasa yang akan datang sesuai dengan kebiasaannya, maka boleh dan sah jual
belinya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dilarangnya lima macam jual
beli diata berhak untuk memilih untuk membatalkan penjualan.
عَنْ طَا وُسٍ عَنْ اِبْنِ عَبَّا سٍ قَا لَ : قَا لَ رَسُوْلُ اللهِ ص م ( لاَ تَلَقُّوْا ا لرُّ كْبَا نَ, وَلاَ يَبِعْ حَا ضِرٌ لِبَا دٍ ) قُلْتُ لاِ بْنِ عَبَّا سٍ: مَا قَوْ لُهُ ( وَلاَ يَبِعْ حَا ضِرٌ لِبَا دٍ؟ قَا لَ : لاَ يَكُوْ نُ لَهُ سِمْسَا رًا.متفق عليه
عَنْ طَا وُسٍ عَنْ اِبْنِ عَبَّا سٍ قَا لَ : قَا لَ رَسُوْلُ اللهِ ص م ( لاَ تَلَقُّوْا ا لرُّ كْبَا نَ, وَلاَ يَبِعْ حَا ضِرٌ لِبَا دٍ ) قُلْتُ لاِ بْنِ عَبَّا سٍ: مَا قَوْ لُهُ ( وَلاَ يَبِعْ حَا ضِرٌ لِبَا دٍ؟ قَا لَ : لاَ يَكُوْ نُ لَهُ سِمْسَا رًا.متفق عليه
Artinya:“Dari thawus dari Ibnu abbas ia berkata: telah
bersabda Rasulullah SAW: “ Janganlah kamu mencegat kafilah-kafilah dan
janganlah orang-orang kota menjual buat orang desa.” saya bertanya kepada Ibnu
abbas, ” Apa arti sabdanya.? “Janganlah kamu mencegat kafilah-kafilah dan
jangan orang-orang kota menjualkan buat orang desa,” Ia menjawab: “Artinya
janganlah ia menjadi perantara baginya”. (Muttafaq alaih , tetapi lafazh
tersebut dari bukhari).
Kita ketahui dalam
sejarah, bahwa masyarakat arab banyak mata pencariannya sebagai pedagang.
Mereka berdagang dari negeri yang satu kenegeri yang lain. Ketika mereka
kembali, mereka membawa barang-barang yang sangat dibutuhkan oleh penduduk
ma’kah. Mereka dating bersama rombongan besar yang disebut kafilah. Penduduk
arab berebut untuk mendapatkan barang tersebut karena harganya murah.
Oleh karena itu banyak tengkulak atau makelar mencegat rombongan tersebut di tengah jalan atau memborong barang yang dibawa oleh mereka. Para tengkulak tersebut menjualnya kembali dengan harga yang sangat mahal. Membeli barang dagangan sebelum sampai dipasar atau mencegatnya di tengah jalan merupakan jual beli yang terlarang didalam agama islam. Rasulullah saw bersabda:
Oleh karena itu banyak tengkulak atau makelar mencegat rombongan tersebut di tengah jalan atau memborong barang yang dibawa oleh mereka. Para tengkulak tersebut menjualnya kembali dengan harga yang sangat mahal. Membeli barang dagangan sebelum sampai dipasar atau mencegatnya di tengah jalan merupakan jual beli yang terlarang didalam agama islam. Rasulullah saw bersabda:
“apabila dua orang
saling jual beli, maka keduanya memiliki hak memilih selama mereka berdua belum
berpisah, dimana mereka berdua sebelumnya masih bersama atau selama salah satu
dari keduanya memberikan pilihan kepada yang lainnya, maka apabila salah
seorang telah memberikan pilihan kepada keduanya, lalu mereka berdua sepakat
pada pilihan yang diambil, maka wajiblah jual beli itu dan apabila mereka
berdua berpisah setelah selesai bertransaksi, dan salah satu pihak diantara
keduanya tidak meninggalkan transaksi tersebut, maka telah wajiblah jual beli
tersebut. (diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim, sedangkan lafaznya milik
muslim).
Dalam hadits tersebut jelaslah bahwa islam mensyari’atkan bahwa penjual dan
pembeli agar tidak tergesa-gesa dalam bertransaksi, sebab akan menimbulkan
penyesalan atau kekecewaan. Islam menyari’atkan tidak hanya ada ijab Kabul dalam
jual beli, tapi juga kesempatan untuk berpikir pada pihak kedua selama mereka
masih dalam satu majlis.
Menurut Hadawiyah dan Asy-syafi’I melarang mencegat barang diluar daerah,
alasannya adalah karena penipuan kepada kafilah, sebab kafilah belum mengetahui
harganya.
Malikiyah, Ahmad, dan Ishaq berpendapat bahwa mencegat para kafilah itu dilarang, sesuai dengan zahir hadits. Hanafiyah dan Al-Auja’I membolehkan mencegat kafilah jika tidak mendatangkan mudarat kepada penduduk, tapi jika mendatangkan mudarat pada penduduk, hukumnya makruh.
Malikiyah, Ahmad, dan Ishaq berpendapat bahwa mencegat para kafilah itu dilarang, sesuai dengan zahir hadits. Hanafiyah dan Al-Auja’I membolehkan mencegat kafilah jika tidak mendatangkan mudarat kepada penduduk, tapi jika mendatangkan mudarat pada penduduk, hukumnya makruh.
B. Larangan Menimbun
Barang Pokok atau Monopoli Barang,
َوَعَنْ أَنَسِ بْنِ
مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: ( غَلَا اَلسِّعْرُ بِالْمَدِينَةِ عَلَى عَهْدِ
رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ اَلنَّاسُ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ !
غَلَا اَلسِّعْرُ, فَسَعِّرْ لَنَا, فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم
إِنَّ اَللَّهَ هُوَ اَلْمُسَعِّرُ, اَلْقَابِضُ, اَلْبَاسِطُ, الرَّازِقُ,
وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى اَللَّهَ -تَعَالَى-, وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ
يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ
Artinya: “Anas Ibnu Malik berkata: Pada zaman
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah terjadi kenaikan harga
barang-barang di Madinah. Maka orang-orang berkata: Wahai Rasulullah, harga
barang-barang melonjak tingi, tentukanlah harga bagi kami. Lalu Rasulullah
Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allahlah penentu harga,
Dialah yang menahan, melepas dan pemberi rizki. Dan aku berharap menemui Allah
dan berharap tiada seorangpun yang menuntutku karena kasus penganiayaan
terhadap darah maupun harta benda (H.R. Imam Lima kecuali Nasa’i. Hadits shahih
menurut Ibnu Hibban).
Sabda Rasulullah SAW:
رواه أحمد.(لا يَحْتكِرُ إلاخَاطِىءُ) عَنْ رَسُوْ الله صَلى الله عَليْهِ
وَسَلم قالَ : وَ عَنْ مَعْمَرِ بْن ِعَبْدِ اللهِ رَضِيَ الله
عَنْهُ
Artinya: “Dari Ma’mar Bin Abdullah RA, dari Rasulullah
SAW, beliau bersabda:” Tidaklah orang yang menimbun barang (monopoli) kecuali
orang yang bersalah”. (H.R. Ahmad)
Kata Al-Ihtikar yaitu
orang yang membeli makanan dan kebutuhan pokok masyarakat untuk dijula kembali,
namun ia menimbun (menyimpan) untuk menunggu kenaikan harga. Ini merupakan
pengertian secara terminologi. Kata al-Khaati’; Ar-Raqhib
berkata“Al-khata’adalah merubah arah. Monopoli adalah membeli barang perniagaan
untuk didagangkan kembali dan menimbunnya agar keberadaaannya sedikit dipasar
lalu harganya naik dan tinggi bagi si Pembeli.
Para ulama membagi
monopoli kedalam dua jenis;
a) Monopoli yang haram, yaitu monopoli pada makanan pokok masyarakat,
Sabda Rasulullah, riwayat Al-Asram dari Abu Umamah:
Sabda Rasulullah, riwayat Al-Asram dari Abu Umamah:
أَنْ النبيُ صَلى الله عَليهِ وسلم نهَى أنْ يَحْتكِرُالطٌعَا مَ
Artinya:“Nabi SAW
melarang monopoli makanan” Jenis inilah yang dimaksud dalam hadis bahwa
pelakunya bersalah, maksudnya bermaksiat, dosa dan melakukan kesalahan”.
b) Monopoli yang diperbolehkkan, yaitu pada suatu yang bukan kepentingan umum,
seperti: minyak, lauk pauk, madu, pakaian, hewan ternak, pakan hewan.
Sehubungan dengan
celaan melakukan penimbunan ini, telah disebutkan sejumlah hadis diantaranya:
Ø Hadits Umara dari Nabi SAW:
مَنْ احْتَكَرَعَلى لمُسْلِمِيْنَ طَعَامُهُمْ ضَرَبَهُ اللهُ بِل اجُذامِ
وَالاِ فْلاَ سِ
Artinya: “Siapa menimbun makanan kaum muslimin,
niscaya Allah akan menimpakan penyakit dan kebangkrutan kepadanya”.
Ø Diriwayatkan Ibnu Majah dengan Sanad Hasan
اَجَالْ لِبُ مَرْزُوْقُ وَالمُحْتَكِرُمَلْعُوْنُ
Artinya: “Orang yang mendatangkan barang akan diberi
rezeki dan orang yang menimbun akan dilaknat”.
Ø Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi SAW:
مَنِ احْتَكَرَحُكْرَة ًيُرِيْدُأنْ يُغَالِيَ بِهَاعَلَى ا لمُسْلِمِيْنَ
فَهُوَخَطِئَُ
Artinya: “Barang siapa yang menimbun barang terhadap
kaum muslimin agar harganya menjadi mahal, maka ia telah melakukan dosa”.
Ø Dari ibnu Umar, dari Nabi SAW:
مَنْ احْتَكَرَطَعَمًاأرْبَعِيْنَ لَيْلة فَقَدْبَرِىءَمِنَ اللهَ وَبَرِىءَ
مِنْهُ
Artinya: “Siapa yang menimbun makanan selama empat
puluh malam sungguh ia telah terlepas dari Allah dan Allah berlepas dari
padanya”.
Para Ahli fiqih
(dikutip Drs. Sudirman, M.MA) berpendapat menimbun barang diharamkan dengan
syarat:
a. Barang yang ditimbun melebihi kebutuhan atau dapat dijadikan persedian
untuk satu tahun.
b. Barang yang ditimbun dalam usaha menunggu saat harga naik.
c. Menimbun itu dilakuakn saat manusia sangat membutuhkan.
BAB III
PENUTUPAN
A.
Kesimpulan
a) Melarang jual-beli dengan cara muhaqalah, muhadlarah (menjual buah-buahan
yang belum masak yang belum tentu bisa dimakan), mulamasah (menjual sesuatu
dengan hanya menyentuh), munabadzah (membeli sesuatu dengan sekedar lemparan).
b) Membeli barang dagangan sebelum sampai dipasar atau mencegatnya di tengah
jalan merupakan jual beli yang terlarang didalam agama islam.
c) Kata Al-Ihtikar yaitu orang yang membeli makanan dan kebutuhan pokok
masyarakat untuk dijula kembali, namun ia menimbun (menyimpan) untuk menunggu
kenaikan harga.
·
Monopoli yang haram,
yaitu monopoli pada makanan pokok masyarakat.
·
Monopoli yang
diperbolehkkan, yaitu pada suatu yang bukan kepentingan umum, seperti: minyak,
lauk pauk, madu, pakaian, hewan ternak, pakan hewan.
d) Para Ahli fiqih (dikutip Drs. Sudirman, M.MA) berpendapat menimbun barang
diharamkan dengan syarat:
·
Barang yang ditimbun
melebihi kebutuhan atau dapat dijadikan persedian untuk satu tahun.
·
Barang yang ditimbun
dalam usaha menunggu saat harga naik.
·
Menimbun itu dilakukan
saat manusia sangat membutuhkan.
B. Saran
Penyusun memanjatkan
puji syukur kehadirat Alloh SWT yang telah melimpahkan rahmat-NYA sehingga
penyusun dapat menyelesaikan makalah ini.penyusun menyadari bahwa dalam membuat
makalah banyak terdapat kekurangan. Kiranya pembaca mau memberikan kritik dan
saran kepada kami. Akhirnya penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini dengan baik dan benar.
DAFTAR PUSTAKA
Al Asqalani, Al Hafizh ibnu Hajar. 1989. Bulughul Maram. Semarang:
Wicaksana.
Mannan, M. Abdul. 1997. Teori dan Praktek Ekonomi Islam. Bandung:
PT. Dana Bhakti Prima Yasa.
Qardawi, Yusuf. 2003. Halal Haram dalam Islam. Surabaya : PT. Bina
Ilmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar